Menunggu matahari tebit di Singapura

1 12 2008

Akhirnya, jadi juga main-main ke Singapura. Tapi seperti biasa, kalo bukan diatas kasur sendiri (sekalipun jelek) ga bakalan bisa tidur. Terpaksa deh, semaleman begadang.

Oya, sebelumnya sampe Harbour Front-Singapura memang sudah malam. Sekitar jam 8 malam waktu setempat, setelah beberapa insiden yang cukup bikin deg-degan di imigrasi Batam dan Singapura. Lumayan nyebelin juga, terhambat bukan gara-gara diri kita. Tapi toh badai tlah berlalu.

Perjalanan dilanjutkan pake MRT (em ar ti, hehehe). Gue pikir apa gitu, sampe segitu hebohnya diceritakan olah orang-orang yang sudah duluan ke sini dan dengan cerita yang tidak terlalu jelas juga (mungkin saking heboh sendiri, jadi ceritanya berantakan). Ternyata, cuma kereta bawah tanah. Ok laaah, MRT memang hebat, keren, modern, nyaman dan Indonesia belum punya. Tapi, pernah ngerasain juga sih yang seperti ini. Kalo ga salah di Seoul, Korea Selatan, dulu banget tahun 1996 sampe 1998. Kalo dihitung-hitung sekarang sudah tahun 2000-an lebih yah sudah termasuk transportasi dengan teknologi yang umum ‘kali ya.Termasuk sistem ticketing dengan menggunakan kartu isi ulang. Yah, doain aja Transjakarta dan pengembangannya bakal bisa seheboh EM AR TI (MRT, hehehehe) ini.

Turun dari MRT (mudah-mudahan bukan untuk ngeledek istilah PRT) jalan menuju apartemen yang bakal saya jadikan hotel gratis buat semalam. Selama perjalanan salut juga, jalanan bersih, bahkan dilingkungan sekitar apartemen. Benar-benar ga ada debu, semuanya seperti habis di sapu (atau memang beneran habis di sapu?). Mata jadi iseng lihat sekeliling mencari-cari sampah disekitar tempat itu. Ada sih, selembar plastik, bungkus bekas permen tapi ya cuma itu aja. Wah, benar-benar surga deh, melihat tempat bersih seperti ini. Salut lah kalau untuk urusan yang satu ini. Om Lee (Kuan Yew, maksudnya) dan warganya benar-benar bisa kompak, tertib. Jadi ingat di Seoul lagi, dulu pas pulang ke Indonesia, kalau buang sampah sampai repot mencari tong sampah dulu atau masukin ke tas. Akhirnya budaya yang bagus itu luntur juga dimakan waktu. Walaupun tidak secara totalitas, sih. Tapi sudah mulai bisa untuk merasa tidak peduli. 

Sampai di apartemen temen, sebetulnya bukan apartemen kayak di Jakarta, ini mungkin sejenis rumah BTN kalau di Indonesia. Ada kejutan lagi. Ternyata teman yang bekas di IFW yang sudah kerja di Singapura berubah. Jadi bersih lho! Padahal bertolak belakang dengan semasa tinggal di Batam, perilaku jorok mereka benar-benar bikin gue istighfar berulang kali. Dulu, mereka kalau pakai sepatu ataupun melepas sepatu selalu masuk ke dalam rumah, ga peduli sepatu habis dari WC umum. Sampai-sampai gue berpikir, ni orang pada di beranakin di hutan mana sih?? Bukan sok bersih, tapi memang kalo urusan yang satu itu, bahkan untuk diri sendiri pun gue rada bawel. Makanya gue males serumah. Sekarang, mereka telah insyaf hahahahaha. Baguslah, mudah-mudahan kalau pulang ke Indonesia budaya bersihnya juga dilestarikan dan ditularkan. Cuma kalau ingat dulu, jadi kasihan juga dengan personalia IFW yang sampai harus bayar orang yang bertugas khusus membersihkan rumah yang ditinggali dengan gratis. Padahal disini bayar sendiri, mahal sudah pasti. Tapi mereka mau membersihkan rumah tinggal mereka bergantian, dengan ikhlas. Ga pakai alasan, “Kalo pulang kerjanya udah kemaleman, boro-boro mau bersihin rumah” Jadi, sekali lagi, kita memang banyak ‘alasan’ akhirnya menghambat ‘kemauan dan kemajuan’

Aaah, akhirnya sudah jam 6 pagi waktu Singapura. Akhirnya tahu juga arah matahari terbit untuk mengambil acuan letak kiblat. Setelah isya dan subuh menebak-nebak arah kiblat. Mudah-mudahan siang nanti ada mesjid, jadi bisa sholat gampang.

Ngomong-ngomong soal mesjid, didaerah pemukiman ini ga ada mesjid (kayaknya, ga tau juga). Soalnya subuh ga terdengar adzan. Kalau sudah begini, gue kangen Indonesia.





Belajar memahami sebuah “proses”

29 10 2008

Kebanyakan orang sudah paham bahwa segala sesuatu terjadi melalui sebuah proses. Paling tidak semua hal mengenai dunia ini bisa diperhatikan prosesnya, mulai dari ulat menjadi kepompong hingga kupu-kupu. Tapi ga sedikit juga yang hanya tahu tapi tidak memperhatikan, menyelami dan selanjutnya mengaplikasikan hal tersebut dalam hidup. Mau yang lebih mudah? Kita ga langsung bisa buang air besar di toilet kan? Ada proses menuju kesana. Dan prosesnya, yakin deh, sangat lamban dan menyebalkan untuk ukuran waktu kehidupan manusia.

Tapi beberapa orang, karena pola pikirnya terbiasa instan. Atau karena hal tersebut bukan berhubungan dengan dirinya. Tapi justru lebih kepada orang lain yang diharapkan menjadi sesuai dengan harapannya, tidak lagi memahami hal ini. Atau berlagak tidak peduli. Dan hal ini tidak ada hubungannya dengan tinggi rendahnya jenjang pendidikan.
Mereka tidak lagi menghargai proses untuk sesuatu berubah menjadi bentuk yang baru. Proses untuk berubah menjadi lebih baik. Ada rentang waktu yang dibutuhkan.

Mudah-mudahan saja orang-orang dengan pola pikir semacam ini, yang maunya serba instan, tidak bertambah di dunia ini.

Mudah-mudahan ini juga hanya bagian dari sebuah proses.

Dan selayaknya sebuah proses, kita juga tidak membiarkan hal tersebut mengganggu proses pengembangan diri kita untuk menjadi orang yang lebih baik.





Jadi animator 3d (ikutan Rollbots)

27 10 2008

Akhirnya pindah juga jadi animator 3d. ikutan proyek serial “Rollbots”.
Akhirnya belajar juga menganimasikan pake software 3d untuk yang sesungguhnya, ga sekedar belajar-belajar doang. Ternyata menyenangkan juga, sebenarnya lebih menyenangkan dan jauh lebih mudah malah(lebih tepatnya, seharusnya memang lebih mudah). Hanya memindahkan posisi obyek yang akan di animasikan, selebihnya kita biarkan Core 2 Duo menghitung sendiri hasil yang didapat. Kita hanya perlu menunggu hasil dari preview. Kalau datanya ringan malah bisa langsung di preview tanpa harus menunggu proses render. Cuma satu yang terasa ribet, begitu banyak controller serta tools yang harus diingat fungsinya. Kalau dulu tinggal ganti gambar, sekarang harus mencari dulu controller yang tepat pada rig karakter tersebut untuk mengubah posisinya. Kalo dulu art sekarang malah lebih ke teknikal. Tapi harus saya akui 3d is FUN!! But 2d is BETTER!!!rb1





Suatu sore di sebuah toko buku

22 09 2008

Pernah denger atau tau riwayat atau hadists yang menjelaskan tentang banyaknya godaan setan kala kita berada di pasar? Kalo pernah tolong kasih tau saya, ya? Soalnya kemarin sebelum latihan Aikido, saya main-main dulu ke mal dan mampir ke toko buku Gramedia. Kebetulan memang sengaja berangkat lebih awal. Seperti biasa sesampainya didalam gramedia langsung menyerbu rak-rak buku, putar-puter mulai dari buku-buku komik, grafik novel, buku komputer, biografi, novel, cara mendidik anak, majalah sampai buku cara cepat menjadi kaya, hehehe… Dari awalnya berniat lihat-lihat saja akhirnya ada juga beberapa judul buku yang nyangkut di hati, iseng-iseng di kumpulin ada kira-kira 5 buku dengan kisaran harga 50 ribuan atau lebih sedikit. Lalu tiba-tiba inget kalau uang di dompet tinggal 60 ribuan, berarti kurang untuk membayar buku-buku ini. Sebelumnya memang berniat ke ATM juga sih, ngambil uang THR. Makanya, berani ambil 5 buku tersebut, habis dapet THR bolehlah beli buku lebih banyak, ga usah mikir budget. Akhirnyam keluar dari Gramedia sambil tetap menitip tas disana supaya nanti setelah ambil uang di ATM langsung balik lagi dan ga lupa niat, begitu pikir saya. Kebetulan kalo mau ke ATM harus keluar mal tersebut dan berjalan beberapa ratus meter lagi, jadi memang agak lama. Setelah mengambil uang di ATM, ngelihat jam di hape sudah menunjukkan waktu ashar. Sholat dulu deh, mumpung tas ditinggal di Gramedia jadi ga ribet, dan waktunya memang sudah hampir mepet dengan waktu latihan Aikido. Jadi, sholatlah saya. Setelah sholat, langsung balik ke Gramedia. Eh, mendadak nafsu untuk belanja buku yang sudah dimasukan di list dalam otak saya hilang begitu saja. Memang buku-buku tersebut masih menggoda minat saya, tapi kecenderungan membeli menjadi berkurang. Pertimbangan-pertimbangan lain muncul dan akhirnya saya keluar begitu saja dari Gramedia tanpa membeli sebuah bukupun. Alhamdulillah.
Padahal saya tidak berniat untuk mencari pertimbangan lain ketika keluar Gramedia untuk mengambil uang di ATM. Saya berniat membeli. Tapi semua itu berubah ketika saya kembali, setelah sholat. Buku memang penting, tapi pertimbangan agar tidak belanja dengan membabi-buta juga sangat penting. Saya merasa terselamatkan setelah keluar sebentar dari Gramedia. Mungkin godaan setan hawa nafsu melemah, setelah saya keluar. Padahal saya akan menggunakan uang untuk membeli sebuah buku yang dianggap bermanfaat. Saya jadi teringat hadist yang pernah tidak sengaja saya dengar bahwa pasar merupakan tempat yang banyak setannya.
Mungkin anda bisa juga, sekali waktu jika ingin membeli sesuatu mencoba keluar dulu dari tempat penjual tadi untuk beberapa saat kemudian kembali lagi dan merasakan pada dalam diri sendiri apakah anda masih berminat pada barang yang ingin anda beli tersebut. Apakah barang tersebut sangat mendesak untuk dibeli saat itu dibanding kebutuhan lainnya? Kalau ternyata tidak, bersyukurlah karena anda telah terhindar dari godaan setan, untuk membeli sesuatu yang kurang penting. Dan ingat serta yakinlah bahwa setan memang paling banyak berada dipasar-pasar ataupun mal. Herannya orang lebih suka ke mal berjam-jam, padahal ngakunya takut sama setan he he he…





Pake komputer jangkrik atau ber-merk?

12 09 2008

Ini jadi dilema buat gue sekarang.

Kenapa? Itu yang bakal dibahas oleh tulisan ini sekarang. Untuk lebih mudahnya dibagi menjadi beberapa perbandingan sehingga memudahkan untuk diambil siapa yang lebih baik dipilih. PC ber-merk atau rakitan? Pertama dibeberapa sisi spec komputer ber-merk dengan pc rakitan alias jangkrik nyaris sama. Yang jelas desktop workstation pc ber-merk sekarang spec-nya cukup unggul dan harganya ga jauh beda dengan rakitan. Fitur-fiturnya malah cukup komplet seperti slot buat beragam ukuran memory card sudah disediakan, soundcard yang ciamik juga sudah ada, bahkan webcam dan perangkat untuk wireless seperti yang ada pada pc keluaran Apple. Enaknya jangkrik kita bisa ‘lebih bebas’ memilih setiap hardware yang cocok dengan selera dan kantong kita. Untuk yang ber-merk juga disediakan opsi tersebut, hanya tentu saja merk hardware atau software yang kita pilih sudah ditentukan oleh sang vendor. Untuk merk diluar itu, kita tak bisa menggunakannya. Itu mungkin sebuah kekurangan, tapi sebetulnya itu juga sebuah keunggulan. Sudah pasti merk yang didukung oleh sang vendor lebih aman dan kompatibel karena sudah menjalani proses quality control terlebih dahulu yang tentunya oleh pakar yang lebih ahli daripada kita pengguna awam. Selain itu juga menjamin ketenangan kita dalam menginvestasikan uang kita, karena ada jaminan berupa garansi akan ketahanan dan bagusnya hardware yang digunakan. Untuk hal ini tentu saja PC ber-merk harus diakui menjadi sebuah pilihan yang cukup kuat.

Kedua tentu saja pada PC ber-merk biasanya sudah terinstall OS dalam arti harga yang kelihatan lebih mahal sebetulnya untuk membeli OS original. Tentu saja bagi yang bisa bekerja dengan free OS seperti Linux pasti bisa lebih berhemat karena bisa membeli pc tanpa OS. Tapi bagi yang karena keterikatan dengan pekerjaan yang hanya bisa menggunakan OS yang berbayar hal ini tentu lebih menguntungkan. Punya pc yang sudah siap ter-install OS, tingal memakai. Sedangkan menggunakan software OS bajakan sudah merupakan pilihan yang kurang bijaksana sekarang ini. Terlebih dengan semakin diperketatnya penegakan hukum dibidang ini. Juga hilangnya beberapa fitur unggulan yang semestinya bisa kita gunakan tapi tidak bisa kita manfaatkan karena takut terdeteksi secara online oleh si empunya software tersebut. Dan dalam hal ini tentu saja pc-bermerk masih terlihat keunggulannya.

Jadi udah punya pilihan??

Kalo aku lagi mikirin beli iMac, cuma masih mikir cocok ga dengan kebutuhanku





Marhaban yaa Ramadhan

5 09 2008

Udah bulan Ramadhan lagi. Alhamdulillah masih dicukupin umur bisa ketemu. Cuma terpikir sampai ga ke hari Idul Fitrinya? Trus Kalo sampai gimana kualitas puasa saya? Ada rasa takut kalo selama ini puasa cuma nahan lapar dan haus saja. Dan memang ga gampang untuk melaksanakan puasa seperti yang dijelaskan oleh para ustadz pada pengajian-pengajian. Kadang kita merasa melakukan yang terbaik bagi puasa kita, tapi diakhir ramadhan ada saja perasaan kurang dan gagal. Rasa tidak puas dihati, rasa tidak layak merayakannya di hari Idul Fitri. 

Tapi TETAP SEMANGAT dan BERUSAHA aja deh! JANGAN PUTUS ASA!! Marhaban ya Ramadhan!!!





Animasi kartun 2d dengan Toon Boom

5 09 2008

Suka animasi?

Sebetulnya ini penilaian pribadi banget. Tapi bolehlah kalo mau dijadikan rujukan hehehehe… 

Tentu udah banyak yang tahu ya tentang animasi kartun dengan menggunakan Adobe Flash. Awalnya Flash banyak digunakan untuk animasi pada halaman web. Tapi kemudian berkembang menjadi software yang cukup ampuh untuk animasi di televisi alias pembuatan film kartun. Kalo mau tahu contohnya ya tentu udah pada tahu dengan animasi The PowerPuff Girl di Cartoon Network ‘kan? Nah, serial televisi itu dibuat di Cartoon Network Studios dengan menggunakan software Flash. Tapi kita ga akan membicarakan tentan Flash kali ini.

Kita akan membahas alternatif lain selain Flash yang bahkan menyandang fitur lebih komplit dan dibikin khusus untuk kebutuhan animasi kartun 2d. Jadi ga ada tuh fitur-fitur untuk web seperti pada Flash. Jadi?? Bukannya malah berkurang fiturnya? Ga dong! Kan kita membahas pembuatan animasi kartun 2d jadi ga perlu lagi fitur untuk buat web. Lebih efisien bukan? Dan software yang kita bicarakan adalah sebuah software yang sedang naik daun (ceile!) dan banyak dipakai di studio animasi besar di dunia. Yaitu Toon Boom.

Sebetulnya software Toon Boom itu sendiri punya banyak varian. Tapi kita akan membicarakan 2 buah saja yaitu Toon Boom Studio yang sekarang sudah mencapai versi 4.0 dan Toon Boom Digital Pro. Toon Boom Studio 4.0 merupakan versi ‘murah’ dengan fitur yang tidak selengkap Digital Pro tapi tetap memiliki keunggulan tersendiri yang diperuntukan bagi hobiis dan profesional. Sedangkan Digital Pro dengan harganya yang fantastis alias mahal :D memang lebih diperuntukkan bagi animator profesional alias kalo loe mampu beli ‘ni software kudu bisa jual animasi loe dengan harga yang seimbang supaya ni software bisa jadi investasi bukannya pemborosan. Tapi kalo mau belajar menggunakan Digital Pro gampang kok! Sekarang Toon Boom Digital Pro bisa di download versi gratis untuk belajar (Personal Learning Edition) tapi resolusinya terbatas dan ada ‘watermark’ pada hasil render animasi yang kamu buat. Selebihnya kamu bisa menikmati semua fitur yang sama dengan versi bayarnya. Kamu bisa download sendiri di http://www.toonboom.com/ dan cari link download, tapi tentu aja setelah register dulu. 

Tentu kamu akan bertanya, apa sih asiknya Digital Pro?  Sebagai profesional di animasi 2d dan yang kebetulan menggunakan software ini di tempat kerja saya bisa menjawab dengan sederhana yaitu memudahkan serta intuitif.  Bahwa semua kebutuhan tentang animasi 2d bisa dikerjakan di software ini terlebih lagi bagi animator 2d yang dahulu biasa menggambar di kertas atau dengan menggunakan teknik animasi tradisional. Contoh kamu dengan mudah bisa menggambar langsung di software ini, mulai dari sket hingga clean up. Seperti pada gambar dibawah ini. 

 Simpelnya migrasi dari tradisional teknik (hand drawn) ke digital alias menggambar dan menganimasi langsung di komputer tidak akan membuat bingung. Salah satu contoh adanya fitur meja gambar yang bisa berputar yang membuat kita seakan menggunakan meja gambar animasi pada animasi tradisional.

Beberapa fitur yang heboh lainnya adalah lip sync tool yang sudah terintegrasi, penggunaan teknik animasi cut out-peg seperti pada yang kita jumpai pada wayang kulit atau golek, sehingga animator hanya bertugas menganimasikan karakter semaksimal mungkin tanpa perlu kuatir tentang konsistensi pada gambar seperti momok yang kerap dikuatirkan pada animasi tradisional.

Kelebihan lainnya adalah gambar pada software menggunakan vektor pada hasil gambar kita, sehingga kita tidak perlu kuatir dengan pengaruh resolusi gambar karena ketajamannya tetap dapat dipertahankan pada resolusi apapun. Demikian pula dengan hasil scanning gambar, jika metode pembuatan animasi masih tetap menggunakan metode tradisional, hasil scan tetap akan di’vektor’kan dengan software ini. Jangan kuatir gaya ‘pensil’ tetap bisa dipertahankan, jika kita menggunakan opsi garis pensil yang akan diterjemahkan oleh software sebagai ‘tekstur vektor’. Hehehe, moga-moga ga bingung ya?

Simpelnya ni software emang ‘fun to work with’, tapi yang lebih penting tentu saja mempelajari prinsip-prinsip animasi itu sendiri, yang sampai saat ini saya juga masih berusaha ‘ngulik’ terus. Software hanya sekedar alat bantu aja. Kreatifitas ga bergantung dari software yang kita gunakan.





Hore!! Kyu 6 sekarang :D

4 09 2008


Udah ikutan aikido selama hampir 6 bulan nih. Latihan di dojo Batam Aikido Club di Baloi-Batam yang berafiliasi dengan Aikido Shinjukai Singapore dan pertengahan Agustus kemarin ikutan ujian kenaikan tingkat (gashuku) dari sabuk putih (kyu 7) ke sabuk biru (kyu 6).

Di uji oleh Sensei James ( dan 4 ) dari Aikido Shinjukai Singapore, kirain ujian kenaikan tingkat, apalagi cuma dari sabuk putih itu gampang. Ternyata sebaliknya. Belum lagi perasaan ‘nervous’ setelah 2 minggu sebelumnya berantakan semua dalam menghapal teknik-teknik yang pernah diajarkan. Dan bukti kegugupan kita lebih kelihatan lagi setelah seorang kawan yang sebetulnya udah lebih lama berlatih malah mengalami cedera karena salah melakukan ‘ukemi’ pada saat eksekusi teknik ‘irimi nage’. Dan sampai sekarang kawan tersebut ga pernah balik lagi ke dojo untuk latihan, apalagi setelah tahu ia ga lolos ujian kali ini. Padahal masa latihan dia lebih lama. Untung, gue dan kawan-kawan lainnya berhasil lolos ujian dengan hasil memuaskan. Walaupun dengan stamina yang lumayan terkuras habis. Belum lagi sensei yang menguji ngasih kita surprise untuk melakukan teknik yang tidak terdapat di sylabbus ujian. Untung kita bisa melalui semua itu. 

Tapi setelah selesai ujian kita mendapat banyak advice yang bagus yang membuka mata kita kembali atas beberapa teknik yang memang harus lebih disempurnakan. Dan diatas semua itu, kemana lagi di Batam ini gue bisa ‘having fun’ dan refreshing tiap minggu kalo ga ada latihan Aikido?